Oleh: Muhammad Fahri Idrus
Dalam kehidupan beragama, tawakal
terlalu sering dipahami sebagai bentuk berserah diri kepada Tuhan setelah
melakukan berbagai usaha. Namun, pada realitanya kepercayaan ini kerap
dipelintir menjadi alat pembenaran bagi kemalasan, kepasifan, bahkan
pembungkaman terhadap kritik. Akhirnya, teks keagamaan yang seharusnya
mendorong keteguhan batin justru berubah menjadi tameng ideologis yang menutupi
kegagalan manusia dalam menjalankan tanggung jawab. Padahal, dalam Islam
tawakal tidak pernah berdiri sendiri; ia selalu berkaitan dengan ikhtiar. Al-Qur’an
dan hadis menegaskan bahwasanya manusia dituntut untuk berusaha, lalu
menyerahkan hasilnya kepada Allah setelah maksimal menjalankan sebab-sebab yang
ada.
Agama yang seharusnya berfungsi
sebagai emansipator dan pembebas manusia dari belenggu ketidakadilan. teks suci
sering kali dimanipulasi oleh para "Manipulator retorika". Hal ini
melahirkan apa yang disebut sebagai "Pembunuhan esensi keagamaan",
ketika doktrin teologis dipelintir menjadi alat defensif untuk melanggengkan
status, menjustifikasi kemiskinan, dan membungkam nalar kritis masyarakat.
Sejarah mencatat agama memegang peranan
fundamental dalam sejarah peradaban manusia. Di satu sisi, ia tampil sebagai
kekuatan emansipatoris manusia dari belenggu ketidakstabilan. Namun, ada juga
teks-teks suci yang dimanipulasi sosiologis oleh para aktor hegemonik yang
menggunakannya untuk melanggengkan status dan kekuasaan.
Ayat-ayat suci dan doa
dialihfungsikan menjadi tameng eksistensial. Praktik ini mengubah agama yang
progresif menjadi opium yang melahirkan fatalisme—sebuah keyakinan bahwa
manusia tidak memiliki kendali atas takdirnya, sehingga usaha dianggap tidak
lagi relevan. Tawakal dan doa menjadi konteks yang dimanipulasi, dipaksa
menanggung beban kemalasan sistemik yang tidak pernah diperintahkan oleh agama
itu sendiri.
Narasi yang dijadikan argumen
defensif sering kali digunakan oleh kelompok dominan atau individu yang enggan
memikul tanggung jawab sosial. Ketika ketidakadilan “Dikritik” jawaban yang
muncul adalah seruan untuk "Tawakal". Ketika kemiskinan struktural
dipertanyakan "Kesabaran" dijadikan komoditas penenang, ketika
kegagalan diungkapkan "Takdir" yang menjadi jawaban.
Melalui dalil seperti “Tawakal saja, Tuhan yang akan membalas di
akhirat." Melindungi pelaku kriminal dari jerat hukum dunia.
“Ini sudah takdir” kemiskinan adalah ujian kedekatan dengan
Tuhan."Mematikan tuntutan keadilan ekonomi.
“Biarkan Tuhan yang mengatur, ini sudah takdir
dan kehendak mutlak yang kuasa.” Melanggengkan siklus kekerasan dan membunuh
ruang aman, memaksa korban bertahan dalam relasi yang buruk dan
berbahaya.
“Semua sudah ada jalannya.” Membunuh daya
juang dan membiarkan penindasan mengakar. Mengulur waktu agar korban melupakan
hak yang dirampas, sekaligus menormalisasi kejahatan struktural.
“Bumi ini memang sudah akhir
zaman, bencana adalah tanda kiamat.” Menghilangkan tanggung jawab
korporasi dan regulasi. (Kerusakan alam akibat keserakahan industri
dialihkan menjadi narasi eskatologis)
Para manipulator menciptakan
standar moral baru: "Orang saleh adalah orang yang diam."
- Siapa saja yang melawan, mengorganisasi massa, atau
menuntut haknya, akan dicap sebagai orang yang kurang beriman, tidak
bersyukur, atau menentang takdir.
- Sebaliknya, mereka yang menerima penindasan dengan
kepala tertunduk diberi label "Ahli tasawuf" dan "Kekasih
Tuhan". Ini adalah puncak kelicikan retorika di mana kepatuhan
politik kepada penguasa/penindas disamakan dengan kepatuhan spiritual kepada
Tuhan.
Para manipulator secara perlahan
menggeser agama dari ruang etika dan ikhtiar menuju ruang kepasrahan yang
keliru. Tawakal yang dalam ajaran agama merupakan puncak dari usaha maksimal
kemudian dipersempit maknanya menjadi alasan untuk tidak berusaha.
Takdir yang semestinya dipahami
sebagai bagian dari representasi Tuhan tidak menafikan kehendak dan ikhtiar
manusia, justru dijadikan instrumen untuk membenarkan kegagalan, kemiskinan,
ketidakstabilan, ketidakadilan, bahkan penindasan.
Yang dibunuh bukan teks sucinya,
melainkan jiwa yang terkandung di dalamnya. Agama kehilangan daya kritis,
esensi serta keberpihakannya terhadap
kebenaran. Nilai-nilai seperti kerja keras, tanggung jawab, kejujuran,
keberanian melawan kezaliman, serta kewajiban menuntut ilmu tergeser oleh
narasi-narasi yang meninabobokan kesadaran. Masyarakat tidak lagi didorong
untuk memperbaiki keadaan, melainkan diajarkan untuk menerima keadaan apa
adanya tanpa refleksi dan perjuangan.
Padahal, hampir seluruh tradisi
keagamaan menempatkan usaha, akal, dan tanggung jawab manusia sebagai bagian
yang tidak terpisahkan dari keimanan. Tawakal tidak pernah berdiri tanpa
ikhtiar. Doa tidak pernah dimaksudkan untuk menggantikan kerja. Kepercayaan
kepada takdir tidak pernah dimaksudkan untuk mematikan kehendak dan perjuangan
manusia.
Argumen kepasrahan total tanpa
aksi adalah sebuah kecacatan epistemologis. Sejarah peradaban tidak pernah
digerakkan oleh kepasrahan tanpa kerja keras.
o Nabi Nuh AS dan Dialektika Logika: Beliau tidak
mengisolasi diri di atas bukit sambil meratapi azab banjir yang akan datang.
Perintah metafisik yang diakumulasi dalam aksi fisik yang sangat teknis: menanam
benih,menebang pohon, memotong papan, dan merakit bahtera di tengah ejekan
publik. Keselamatan adalah hasil dari iman yang mewujud dalam kerja manufaktur.
o Nabi Musa AS dan Determinasi Geografis: Mukjizat
terbelahnya Laut Merah tidak terjadi saat Musa AS diam merenung di tepi pantai.
Laut itu baru terbelah setelah Musa memimpin kaumnya berjalan bermil-mil
menghadapi ancaman militer Firaun, melangkah mendekati air, dan secara aktif
menghentakkan tongkatnya. Jangan lupakan ketika ia datang langsung kepada
penguasa fir’aun dengan saudaranya harun AS untuk mengajak beriman alih-alih
hanya berdoa tanpa aksi.
o Nabi Muhammad SAW sang Rasionalitas Strategi: Dalam
Perang Khandaq (dari sekian banyak nya perang yang beliau ikuti), beliau tidak
sekadar berdoa di atas mimbar mengharapkan pasukan langit turun memenangkan
pertempuran. Beliau menerima usulan rasional Salman Al-Farisi untuk menggali
parit raksasa melingkari Madinah. Kemenangan diraih melalui kalkulasi militer,
keringat penggalian tanah, dan diplomasi logistik yang matang.
Figur sentral ini menunjukkan
bahwa mukjizat dan pertolongan vertikal (Tuhan) selalu beririsan dengan
determinasi horizontal (usaha manusia). Doa tanpa usaha bukan lagi bentuk
keimanan, melainkan angan-angan kosong tak bertuan.
Selama berabad-abad, nalar publik
telah dikondisikan oleh para manipulator untuk melihat spiritualitas sebagai
ruang pelarian dari realitas duniawi yang pahit. Ketika penderitaan sosial
dibungkus dengan bahasa kesalehan pasif, agama kehilangan daya gedornya dan
berubah menjadi sekadar industri penenang jiwa bagi kaum yang kalah.
Tawakal sejati bukanlah sebuah
kepasrahan buta yang membebankan ketidakmampuan manusia kepada kehendak mutlak
Tuhan. Secara epistemologis, tawakal diletakkan di ujung garis perjuangan,
bukan di garis strata awal sebagai pembenaran atas absennya ikhtiar. Menaruh
kata "Tawakal" sebelum keringat bercucuran adalah bentuk pelecehan
terhadap akal budi yang telah dianugerahkan Tuhan sebagai perangkat utama
manusia untuk mengelola bumi (khalifah fil ardhi).
Membiarkan retorika keagamaan
dipelintir oleh para manipulator sama saja membunuh agama mati secara perlahan
di tangan para pemeluknya sendiri. merebut kembali mimbar-mimbar spiritual dari
cengkeraman mereka yang menjual janji akhirat demi mengamankan kenyamanan
duniawi mereka sendiri.
Membongkar struktur penindasan
retorika ini bukan sekadar tugas ahli agama, melainkan sebuah panggilan iman
yang paling suci. Ketika kita berani melangkah, mengkritik kebijakan yang
timpang, dan menghancurkan belenggu fatalisme, di situlah kita sedang
memurnikan kembali esensi ketuhanan. Agama harus dikembalikan pada khitahnya:
bukan sebagai dinding pelindung bagi kaum persekutor, melainkan sebagai obor
pembebasan yang membakar habis kezaliman dan menerangi jalan menuju keadilan
yang sejati.
Dengan demikian, doa dan usaha
bukanlah pelarian dari tanggung jawab, melainkan puncak dari ikhtiar yang
jujur. Takdir tidak membebaskan manusia dari kewajiban untuk berpikir, bekerja,
dan memperjuangkan kebaikan. Jika agama dipahami secara benar, ia akan
melahirkan etos aktif, bukan sikap pasif. Justru di situlah letak kematangan
iman: berdoa dengan sungguh-sungguh, berusaha dengan maksimal, lalu menerima
hasil dengan lapang dada.
Doa tidak boleh lagi dipahami
sebagai mantra magis untuk melarikan diri dari tanggung jawab sosial, melainkan
sebagai generator energi spiritual untuk meruntuhkan tembok ketidakadilan.
Related Posts
Subscribe Our Newsletter
Kami sangat mengapresiasi untuk penulis yang telah berani mengangkat judul ini. Kemudian Kami meminta izin untuk memberikan beberapa saran terkait tulisan ini.
BalasHapusPertama, terkait judul yang lumayan agak panjang, kalau bisa milih judul yang lebih singkat lagi dan membuat para pembaca lebih penasaran, serta menarik orang untuk membaca tulisan kita pas melihat judulnya.
Kedua, kalau bisa berikan contoh fenomena yang sedang terjadi di zaman sekarang, dengan catatan sesuai dengan judul dan juga pemabahasan tulisan ini.
Ketiga, bahas walaupun sedikit, atau berikan contoh tokoh figur yang sedang masyhur (menginspirasi) di zaman sekarang, dengan catatan tokoh tersebut sesuai dengan judul dan juga pemabahasan tulisan ini untuk penguat kritik dan saran kita di dalam tulisan.