Oleh: Fauziyah Zata Amani 

Setiap malam, jutaan orang tidur dengan keyakinan bahwa mereka harus bangun lagi. Padahal, tidak semua dari mereka benar-benar menantikan hari esok.

Ada yang memejamkan mata sambil berharap rasa sesak di dadanya sedikit berkurang. Ada yang tidur karena tubuhnya terlalu penat untuk terus berpikir. Ada pula yang menatap langit-langit kamar begitu lama, sampai akhirnya menyerah bukan kepada hidup, melainkan kepada kantuk.

Aneh, ya?

Manusia sering berkata bahwa hidup terlalu berat, tetapi tetap memasang alarm untuk pukul enam pagi. Mereka mengeluh tentang pekerjaan yang menguras tenaga, hubungan yang perlahan kehilangan hangatnya, mimpi yang tak kunjung menemukan bentuk, bahkan tentang dirinya sendiri yang terasa semakin asing setiap kali bercermin. Namun setelah semua keluhan itu selesai diucapkan, mereka tetap menyetrika baju untuk esok hari, mengisi daya ponsel, menanak nasi, membuat janji minggu depan, atau sekadar bertanya kepada temannya, "Besok jadi ketemu, kan?"

Seolah-olah ada sesuatu yang diam-diam membuat manusia terus menyiapkan masa depan, bahkan ketika mereka tidak begitu yakin ingin sampai ke sana. Barangkali, di situlah letak pertanyaan yang selama ini luput kita pikirkan.

Mengapa kita tetap melanjutkan hidup?

Aku pikir bukan karena hidup selalu menyenangkan. Bukan pula karena setiap orang memiliki alasan yang jelas untuk bertahan. Justru sebaliknya, banyak dari kita hidup sambil memikul kebingungan yang tidak pernah benar-benar selesai. Ada yang kehilangan arah di usia dua puluhan. Ada yang merasa tertinggal ketika melihat orang lain berlari lebih jauh. Ada yang setiap hari tersenyum begitu mudah di hadapan orang lain, tetapi pulang membawa keheningan yang terlalu bising untuk diabaikan.

Lucunya, dunia tidak akan berhenti hanya karena seseorang sedang kelelahan. Pagi tetap datang dengan matahari yang sama. Kendaraan tetap memenuhi jalan. Pesan-pesan tetap berdatangan.

Dan hidup, tanpa meminta persetujuan siapa pun, terus bergerak seperti sungai yang tak pernah peduli apakah kita masih sanggup berenang atau tidak.

Di titik tertentu, mungkin setiap manusia pernah bertanya dalam hati, "Kalau memang semuanya seberat ini, mengapa aku masih melanjutkannya?" Pertanyaan itu sering kali dianggap berbahaya, padahal belum tentu. Tidak semua orang yang mempertanyakan hidup sedang ingin mengakhirinya. Sebagian dari mereka hanya sedang berusaha memahami, mengapa mereka masih menjalaninya.

     ***

Kita hidup di zaman yang begitu sibuk mengajarkan cara bertahan—sementara pertanyaan tentang mengapa kita harus bertahan nyaris tak pernah dibicarakan. Semua orang menyuruh kita terus berjalan. Tak banyak yang benar-benar duduk di samping kita dan berkata, "Kalau hari ini terasa begitu berat, bagian mana dari hidupmu yang paling ingin didengarkan?"

Mungkin karena itu, banyak orang menjadi ahli dalam menjalani rutinitas, tetapi asing terhadap isi kepalanya sendiri. Hari-hari pun berlalu seperti halaman buku yang dibalik terlalu cepat. Kita menyelesaikan satu kewajiban hanya untuk disambut kewajiban berikutnya. Kita mengejar akhir pekan, lalu mengeluh saat Senin tiba. Kita menunggu libur panjang, kemudian kembali merasa kosong beberapa hari setelahnya.

Lambat laun, hidup berubah seperti lorong panjang yang dipenuhi pintu-pintu. Kita terus membuka satu pintu demi pintu berikutnya tanpa sempat bertanya —apakah lorong ini memang tempat yang ingin kita tuju? Atau kita hanya takut berhenti berjalan?

Mungkin, yang membuat manusia letih bukan semata-mata karena hidup terasa berat. Melainkan karena terlalu lama berjalan tanpa pernah benar-benar memahami untuk apa langkah itu diambil.

Namun anehnya, meski pertanyaan itu tak kunjung menemukan jawaban, kita masih menikmati hembusan angin Kairo di sore hari. Masih menyimpan foto matahari terbenam di galeri. Masih tertawa pada lelucon yang sederhana. Masih mengirim pesan, "Hati-hati di jalan." Dan juga, hati kita merasa lega ketika orang yang kita sayangi memberi kabar bahwa mereka sudah sampai rumah.

Barangkali, manusia tidak bertahan karena selalu memiliki alasan, tetapi alasan itulah yang perlahan lahir karena manusia memilih bertahan. Maka mungkin selama ini kita keliru. Kita sibuk mencari makna agar bisa melanjutkan hidup. Padahal sering kali, kitalah yang harus lebih dulu melanjutkan hidup agar suatu hari nanti menemukan makna itu.



Related Posts

There is no other posts in this category.
Ikatan Keluarga Abiturien Attaqwa Mesir
  • Facebook
  • WhatsApp
  • Instagram
  • Subscribe Our Newsletter

    Belum ada Komentar untuk "Mungkin yang Sulit Bukan Mati, Melainkan Memutuskan untuk Tetap Hidup"

    Posting Komentar

    Iklan Atas Artikel

    Iklan Tengah Artikel 1

    Iklan Tengah Artikel 2

    Iklan Bawah Artikel