Oleh:Muhammad Fahri Idrus
Di sebuah sudut galeri yang remang, ruangan berdiameter 6X8 meter, sebuah kanvas berdiri tanpa bingkai. Dipajang di sebuah sudut tak bertuan Warna tak selaras gradasi tak beraturan, campuran kelabu yang pekat, sapuan biru gelap yang dingin, serta garisan merah maroon yang tumpang-tindih tanpa arah. Bagi para pengunjung , lukisan itu tidak lebih dari sekadar tumpahan emosi yang berantakan. Karya abstrak yang membingungkan, sulit dinikmati, dan terlalu buram ditafsirkan
Namun bagi Haris, pemuda berusia 23 tahun lukisan itu adalah gambaran utuh dari kepalanya. Selama bertahun-tahun, Ia hidup dalam ruang penuh keabstrakan. berhubungan dengan orang-orang di sekitar terasa seperti siluet. Ia hidup seperti tak berarti. Segala sesuatu dalam hidupnya hanyalah potongan teka-teki yang sengaja dibiarkan terlewat oleh waktu.
Setiap sore selepas menuntaskan pekerjaannya sebagai Buruh pabrik tua, ia memandangi lukisan di galeri tersebut. Ia mencoba memahami kanvas selama berjam-jam, mencoba mencari bentuk di balik tumpukan cat yang tebal. Menafsirkan apakah ada figur manusia di sana? apakah ada lanskap kota yang hancur? Atau hanya kebetulan dari kuas seorang seniman yang putus asa?
Suatu hari di pertengahan musim hujan bulan November, seorang wanita paruh baya berdiri di tempat biasa yang ia tempati. mantel cokelat basah dengan aroma parfum yang memikat. Perempuan itu adalah Elena, seorang pengamat seni yang baru pindah.
"Kamu selalu menatap lukisan itu seolah-olah ia sedang berbicara kepadamu," kata Elena tanpa menoleh, pandangannya tajam menuju pada kanvas. haris sedikit terkejut. Seraya mengernyitkan dahi "Aku hanya berusaha memahami maksudnya. Semakin lama dilihat, makin tidak ada maknanya”
Elena tersenyum tipis. Tangannya merogoh saku mantel dan mengeluarkan sebuah lensa pembesar kecil milik pemugar seni. "Lukisan abstrak sering kali bukan tentang apa yang digambar, melainkan tentang bagaimana cahaya jatuh di atas permukaannya. Kamu melihatnya dari sudut yang terlalu lurus, cobalah bergeser.
Haris bertanya dalam hati. Baginya, logika Elena terdengar aneh. Namun, rasa penasaran mendorongnya berdiri dan, mengikuti arah berdiri Elena.
Di sudut pandangnya, pantulan cahaya lampu gantung galeri menerpa tebalnya tekstur cat minyak di kanvas. Sesuatu yang ajaib terjadi. Bayangan dari sapuan kuas yang kasar itu saling bersilangan, membentuk siluet dua sosok manusia yang sedang berpegangan tangan di bawah naungan pohon tua. Garis-garis merah yang tadinya tampak seperti coretan amarah dan amukan, kini bertindak sebagai dedaunan gugur yang hangat. Sapuan kelabu yang dingin berubah menjadi kabut pagi yang lembut.
Kejelasan itu tidak datang dari mengubah lukisan tersebut, melainkan dari sudut pandang tempat haris berdiri. "Bagaimana mungkin bisa…..." bisik haris , matanya melebar tak percaya "Seniman biasanya menggunakan teknik tertentu dengan sudut pencahayaan khusus," jelas Elena pelan. "Ia
sengaja menyembunyikan cerita utama di balik kekacauan permukaan. Kamu harus rela melangkah sedikit ke samping untuk melihat tujuannya."
Detik itu Haris mulai menyadari sesuatu, hatinya berguncang. Kesadaran yang sangat mendalam merayapi pikirannya.
Selama ini, haris memandang hidupnya hanya sebagai kegagalan yang abstrak. Ia mengutuk hubungan dirinya, emosional yang belom stabil, serta kesepian yang terus menghantuinya. Ia mengira semua kekacauan itu tak memiliki arti. Mungkinkah ia sama seperti lukisan di hadapannya? Bukankah semua kepedihan dan ketidakpastian itu hanyalah tekstur kasar yang belum terkena sudut cahaya yang tepat?
Sejak saat itu, Haris dan Elena kerap menghabiskan waktu bersama. Menyusuri lorong-lorong galeri, berdiskusi tentang sejarah seni, dan sesekali menyeruput kopi di kafe kecil dekat galeri. Bersama Elena, Haris belajar bahwa kejelasan bukanlah sesuatu yang dipaksakan. Kejelasan lahir adalah proses keberanian, keberanian untuk mengubah cara memahami, dan keinginan untuk membiarkan cahaya masuk ke celah-celah yang gelap.
Bulan-bulan terlewati. Lukisan abstrak yang menjadi saksi bisu kesadaran Haris akan dipindahkan ke koleksi pribadi seorang investor. Pada hari terakhir sebelum ia pindah kota, Haris berdiri lagi di sana. Kali ini ia tidak sendirian; tangannya tergenggam hangat dalam jari-jemari Elena.
Di bawah pendar lampu galeri yang meredup, siluet dua insan di dalam kanvas begitu terang dan nyata.
Haris tersenyum. Sesuatu yang tadinya buram, kini telah terang benderang. Sesuatu yang mungkin masih memiliki banyak garis atas ketidakteraturan dan warna-warna yang membingungkan. Namun kini ia tahu, tak peduli seberapa abstrak perjalanan yang harus dilaluinya, selalu ada sudut pandang yang akan membuat semuanya menjadi jelas.
Keabstarakan dalam hidup akan selalu ada entah bagaimana caranya kita memaknai hidup, semuanya tergantung bagaimana caranya menafsirkan dan memberi makna pada kehidupan yang terus menerus berjalan.
Related Posts
Subscribe Our Newsletter

Belum ada Komentar untuk "Keabstrakan"
Posting Komentar